Montag, 4. April 2011

Satu Malam bersama Sang Diva Muda

Photobucket
Dira Sugandi tampil sangat memukau malam itu. Berkali-kali ia menyapa penonton, termasuk Sang Ibu yang juga ikut melihatnya dari kejauhan. (Photo by me)

JAKARTA. Mungkin adalah A3 BNI Hall, tempat dimana para pengunjung mendaratkan pilihannya untuk mendapatkan suguhan pertama dalam rangkaian acara Jakarta International Java Jazz Festival (JJF) 2011. Seperti dirasa paling tepat bagi banyak pengunjung untuk dijadikan awal mula JJF 2011, ruangan itu penuh. Malam itu (4/3), Dira Juliati Sugandi atau yang lebih akrab dipanggil Dira Sugandi menjadi artis pertama yang menandai kehadirannya di ruangan yang dapat memuat sekitar 1000 orang tersebut. Tidak hanya orang-orang yang merupakan fans nomor satu dari Dira Sugandi yang rela berdiri menyaksikan penampilan solois jazz tersebut, tapi juga orang-orang yang penasaran seperti apa artis yang akan ’menyentuh’ A3 BNI Hall pertama kali. Mungkin beberapa dari mereka tahu, Java Festival Production tidak akan main-main dalam menempatkan seorang artis di hall sebesar itu.

Indonesia boleh menyebut Dira sebagai ‘anak baru’. Namun, bukan lagi merupakan sebuah kejutan bagi para pencinta musik jazz mengetahui Dira diberikan sebuah panggung yang akan dipakai oleh Fourplay dan Brian Culbertson pada malam yang sama. Mereka sudah dapat menduga dan tahu bahwa Dira sangat pantas mendapatkan posisi sebagai seorang diva. Gadis muda kelahiran Bandung itu sudah dikenal di mata para personel grup Incognito dan penyanyi terkenal Jason Mraz. Belum lagi, ia begitu sering diajak berkolaborasi dengan banyak musisi jazz terkenal di Indonesia, salah satunya adalah Oele Pattiselano. Karirnya yang terbilang mulus sebagai pendatang baru itu pun menjadi semakin berwarna ditambah dengan keterlibatannya di salah satu teater musikal tanah air. Diawali dengan Get Through to You, salah satu lagu dari album terbaru dan pertamanya, Something about The Girl, Dira memberikan sebuah penampilan solo perdananya di Java Jazz Festival dengan sangat baik. Dengan warna suaranya yang begitu kuat, para penonton seolah-olah terhipnotis malam itu.

Photobucket
Aditya, bukan Adithya Sofian, tapi Anugrah Aditya, adalah salah satu musisi yang diberikan panggung besar di JJF tahun ini. (Photo by me)

Kejutan. Mungkin itu yang banyak dirasakan orang-orang saat menonton Java Jazz Festival tahun ini. Beberapa penyanyi yang tahun lalu diberikan stage kecil, kini diberikan stage besar, seperti yang terjadi pada Anugrah Aditya yang dulu hanya diberikan spot kecil di booth Femina Group atau mungkin sang diva muda Dira Sugandi. Selain itu, musisi-musisi jazz Indonesia juga semakin terlihat mendominasi, walaupun format special show dari dua musisi luar negeri, George Benson dan Santana, tetap diadakan dan beberapa artis dari luar negeri masih memenuhi banyak panggung-panggung besar. Walaupun baru hari pertama, Java Jazz Festival tahun ini sepertinya sukses meraup banyak sekali pengunjung yang ingin menikmati atau penasaran akan seperti apa musik jazz itu. Tiap pengunjung seakan diberi kesempatan untuk membuat ’playlist’-nya sendiri, walaupun harus rela melupakan santap sesaat di beberapa booth makanan atau mungkin kalelahan berlari mengejar jadwal main artis favorit. Benar-benar khas Java Jazz Festival. Seluruh venue bak YouTube semalam suntuk. Harmony under one nation. Anda pilih, Anda dengarkan.

---
Photobucket
Ditulis oleh Sheyka Nugrahani, mahasiswa ITB dan penikmat musik jazz.

*Artikel ini merupakan bagian dari tugas mata kuliah Jurnalistik Sains dan Teknologi